Berlangganan Artikel Via Email

Posting Terbaru

Balas Dendam

|

Balas Dendam - Pernahkah anda merasakan dendam yang teramat sangat?? haruskah kita membalas dendam tersebut?

Balas dendam adalah sebuah kegiatan yang terus berkesinambungan dan tak berujung. Balas dendam hanya terhenti jika sudah merasa rela dan saling memaafkan.

Saat kita merasa tersakiti, ada sebuah inspirasi gelap yang mengajak kita untuk balas dendam. Kita diajak berpikir bahwa setelah membalas, kita akan merasa puas. Bener sih? namun hanya sementara. Tidak ada kata puas untuk balas dendam, rasa itu terus dan terus menggunung. Kita akan merasakan batin yang tersiksa dan lebih sakit lagi ketika lawan juga melakukan dendam balasan. Dendam kesumat, begitu seterusnya tanpa akhir.

Tidak ada hal baik yang didapatkan dari balas dendam. Penyesalan dami penyesalan akan tiba pada waktunya. Hanya kehancuran hidup yang didapat hingga akhir hayat.

Dendam adalah bagian dari egoisme kita selaku manusia. Ketika kita merasa tersakiti oleh orang lain, ada dorongan dari ego untuk membalas kepada orang tersebut. Ketika kita tidak mampu membalasnya, ego itu jugalah yang mendorong kita untuk melampiaskannya ke orang-orang lain yang memiliki karakteristik yang mirip dengan orang yang pernah menyakiti kita.

Sepintas lalu, pelampiasan dendam itu “memuaskan” kita. Sebenarnya, tidak demikian. Pelampiasan dendam itu justru merugikan diri-sendiri karena mengotori hati nurani kita. Ketika hati kita kotor, hati kita menjadi mudah merasa sakit. Kalau kita mau hati kita lebih sehat dan lebih kuat, kita hendaknya bersandar kepada Sang Mahaadil.

Kalau memang orang-orang yang pernah menzalimi kita (dan telah lepas dari jeratan hukum manusia di dunia) itu bersalah, biarlah Dia saja yang membalas kejahatan mereka, setimpal dengan perbuatan mereka. Dan akan lebih bagus lagi bila kita memaafkan mereka dan kemudian mendoakan mereka supaya mereka bertaubat dan tidak ada lagi orang yang menjadi korban kejahatan mereka.
[M Shodiq Mustika]



Tidak mau membalas dendam bukanlah masalah kemunafikan, namun demi mendapatkan hidup yang lebih damai dan tentram. Sebuah ujian sejauh mana kita bisa memaafkan orang lain.

Gambar dari http://christian-dating-service-plus.com

3 komentar:

Post a Comment