Berlangganan Artikel Via Email

Posting Terbaru

Berpikir Mendasar dan Lebih Tinggi

|

Berpikir Mendasar dan Lebih Tinggi -
Berpikir mendasar dan berpikir lebih tinggi, yang saya maksud adalah cara berpikir dalam ruang lingkup ilmiah namun mungkin bisa juga diterapkan untuk ruang lingkup lainnya. Berpikir mendasar berarti berpikir secara mendasar tanpa melibatkan hal-hal ke-ilmu-an terkait yang lebih tinggi. Berpikir tinggi berarti berpikir jauh melebihi semua informasi yang ada atau tidak ada dalam data2 tertulis.

Pasti yang ngebaca ga ngerti semua neh, wakaaaka. Sebenarnya kedua pengertian diatas yakni Berpikir Mendasar dan Berpikir Lebih Tinggi tak lain saya simpulkan dari hasil berhadapan dengan 2 orang Dosen. Berpikir mendasar dari seorang dosen muda yang sebentar lagi akan berangkat keluar negri untuk menempuh pendidikan S3, dan berpikir lebih tinggi dari seorang dosen Senior yang kembali mengajar setelah vakum selama 5 tahun.

Berpikir mendasar saya hasilkan berdasarkan uji kasus tanpa dibekali data apapun. Sebenarnya sangat sederhana, saya dihadapkan dengan sebuah rangkaian logika dan alat ukur. Saya hanya disuruh untuk mengetahui output(keluaran) dari rangkaian berdasarkan apa yang terlihat pada alat ukur. Saya tau persis jawabannya, namun saya menghadapi ujian ini sebanyak 3 kali baru bisa lulus. hahahaha.

* Uji pertama kali
Saya gagal karena kebodohan dan kesalahan sepele namun fatal. Saya sama sekali tidak memperhatikan kalau setingan pada alat ukur diubah dan menjawab sekenanya. :p

* Uji ulang(kedua kalinya)
Semua benar, baik itu setingan alat maupun jawaban. Namun saat ditanya alasannya mengapa jawabannya seperti itu? ya jelas berdasarkan hasil dari alat ukur. Ditanya lagi, apa yang saya lihat dari alat ukur hingga bisa menyimpulkan hasil seperti itu? saya bengong sebentar. Lalu ada Clue dari sang dosen, katanya begini "Lupakan semua ilmu dan pelajaran yang pernah kamu pelajari, jawablah berdasarkan data2 yang ada didepan mata kamu". *saya masih bengong ga bisa mikir karena belum tidur semalem :p* DIINGGG..... waktu habis. Gagal lagi untuk kedua kalinya.

* Uji ulang lagi(ketiga kalinya)
Saya masih dihadapkan dengan pertanyaan yang sama, saya menjawab bla..bla..bla. Jawaban yang terlalu jauh hingga ke penjelasan rangkaian logikanya, padahal yang ditanya cuma alat ukur. waakaakaka. TINGG....waktu tinggal 5 menit lagi.
Saya pun ditanya(mungkin karena saya sudah bingung kehilangan arah), pertanyaannya simpel, "Jika kamu pergi berobat, Dokter akan bertanya gejalanya dulu atau penyakitnya dulu?" ya jelas gejalanya dulu dunk, jawab saya.
Baru deh saya sadar, maunya sang Dosen ya saya menjelaskan hasil dari alat ukur hanya berdasarkan kondisi alat ukur itu sendiri tanpa terkait lingkungan sekelilingnya ataupun ilmu terkait yang pernah saya pelajari. weleh2. Saya akhirnya baru bisa lulus :D.

Hal ini sangat penting jika kita benar2 menemukan kasus (baik dalam pekerjaan ataupun keseharian) yang sama sekali tidak pernah kita tau/dengar sebelumnya, kita hanya sendirian tanpa bisa bertanya atau berkomunikasi dengan orang lain. Kita harus bisa membuat kesimpulan dengan benar hanya berdasarkan data2 yang ada didepan mata.
Apa jadinya kalau kita tidak bisa? hanya pasrah dan berharap pada keberuntungan(sukur2 kalo beruntung :D).

Kemudian cara berpikir lebih tinggi. Cara berpikir lebih tinggi saya simpulkan dari kalimat-kalimat diucapkan oleh Dosen kedua. Dengan gaya bercanda dia berkata begini,

"Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita orang Indonesia tidak akan pernah bisa melebihi orang luar negri seperti Amerika atau Jepang. Dalam suatu penelitian, jika kita menemukan suatu permasalahan dimana masalah tersebut tidak tertulis dalam teori yang ada, maka kita akan berpikir bahwa penelitian kita yang salah dan berhenti melakukan penelitian. Berbeda dengan pemikiran orang luar negri, jika ada masalah seperti itu, maka mereka akan berpikir kalau ada bagian dari teori tersebut yang kurang. Lalu mereka akan terus meneliti lebih dalam hingga menemukan solusi bahkan hingga menciptakan teori baru."

Barisan kalimat yang benar2 membuat saya terpukau dari seorang dosen tua dengan titel S2 yang mengenyam pendidikan di Amerika, karena saya tidak pernah mendengar pemikiran setinggi ini bahkan dari seorang Proffesor dikampus.

Saya akui kalau pemikiran orang Indonesia(tidak semuanya) seperti itu. Karena kita memang diajarkan seperti itu. Sering kali saya dengar konsultasi teman2 saya dan para senior yang sudah lebih lulus dengan pembimbingnya. ketika mereka mengemukakan suatu pemikiran yang berhubungan dengan rancangan atau penelitian tugas akhir, pembimbing selalu bertanya, "Apa yang mendasari pemikiran itu? apa ada text book yang tertulis seperti itu?". Tak jarang para lulusan tersebut mengganti judul skripsi beberapa kali hanya karena tidak punya pegangan teori. hahahaha, susahnya jadi mahasiswa yang mau lulus :p.


Entahlah, mungkin tulisan ini hanyalah curhatan saya saja sebagai seorang Mahasiswa abadi. Sekedar melepas penat diotak ini yang terus saja berpikir tanpa henti. Melepas semua gundah karena hingga sekarang ide rancangan tugas akhir saya masih remang2. Menghindar dari kesedihan karena belakangan job agak jarang. wakaakakaka.

kabuurrr ah ke blog sebelah :p

image url : http://www.thewritingloft.com/thinking%20man.jpg

7 komentar:

Post a Comment