Berlangganan Artikel Via Email

Posting Terbaru

Hidupku Demi Senyumanmu Cinta

|

Hidupku Demi Senyumanmu Cinta -

Aku hanyalah pria yang pemalu, pendiam, dan kurang bisa bergaul. Perjalanan cintaku pun dangkal. Hingga usia yang sudah menginjak 25 tahun, aku hanya jatuh cinta 2 kali. Cinta pertama disaat aku hampir menyelesaikan masa SMA. Kala itu benar2 cinta yang tumbuh secara kebetulan, hanya karena diminta oleh teman baikku untuk mendampingi kakak perempuan dari pacarnya pergi ke cafe bersama mereka. Karena tidak tega meninggalkan wanita imut itu berdiam diri dirumah tanpa teman bicara.

Singkat kata, akupun menyetujui permintaan temanku itu walaupun aku agak tidak enak hati. Bukan karena tidak suka, malas, ataupun takut mengeluarkan uang, tapi karena kudengar kabar ada salah satu temanku yang menyukai dia. Hal itu berlangsung beberapa kali dan dalam hatiku pun mulai bergejolak dengan perasaan yang tak menentu setiap kali melihat wajah imutnya.

Dikali terakhir aku diminta untuk mendampinginya malam mingguan di cafe, aku benar2 tidak sanggup lagi menahan gejolak cinta di dada ini. Tiba2 muncul rencana diotakku, untuk menyatakan perasaanku padanya disaat perjalanan pulang kerumah. Mungkin karena aku penakut, dalam perjalanan pulang yang memakan waktu 15 menit tak sepatah katapun terucap dari mulutku. "Sial" batinku, kapan lagi harus menyatakannya. Kubulatkan tekat ini, hari itu juga harus menyatakan cintaku. Disaat teman ku sudah beranjak pergi untuk pulang dan pacarnya pun sudah masuk kerumah, itulah kesempatan terbaikku. Sengan segala keberanian yang ku miliki, akhirnya terucap juga sebuah kalimat "Aku suka padamu". Beh, jantung rasanya berhenti berdetak saat itu. Hening sekali, dia hanya terdiam tanpa kata. Aku sadar kalau dia belum siap untuk menjawabnya, kembali aku berkata "Kutunggu jawaban hatimu minggu depan". Seraya pamit untuk pulang, akupun berlalu diiringin pesannya agar hati2 dijalan.

Minggu berikutnya aku datang kerumahnya. Bertanya, "Bagaimana?". Tidak ada jawaban, hanya disambut dengan sebuah senyuman. Senyuman terindah sepanjang hidupku, Senyuman yang begitu cantik, senyuman yang bermakna "YA".
Selama bersama, tidak pernah ada konflik antara kami. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke kota untuk bekerja. Awalnya memang tidak ada masalah, tapi setahun kemudian cinta kami kandas karena diadu domba oleh pihak yang mungkin tidak menyukai hubungan kami. Ah, sudahlah. Aku tidak ingin menceritakannya. Biarlah berlalu.

Aku berjanji untuk tidak akan pacaran lagi selama dia masih sendiri. Aku sadar kalau aku bukanlah siapa2, aku berusaha untuk tidak jatuh cinta dengan wanita lain dan memutuskan untuk kuliah melanjutkan studi ku. Pada tahun keempat setelah kami berpisah, aku mendapat kabar dari temanku yang sudah menjadi suami dari adiknya itu. Katanya, "Dia sudah bertunangan". Aku tersenyum, tebersit rasa bahagia dalam hati ini. Akhirnya dia bisa bahagia sekarang, tumpahan doa ku untuk kebagaiaannya meluap kutumpahkan dalam lamunku.

Akupun kembali kedunia ku, hidup tanpa tujuan dan masa depan. Sehari2 hanya kuliah dan mencari uang. Karena tujuanku hanya untuk melihat cinta pertamaku bahagia dalam hidupnya. Aku tidak pernah lagi jatuh cinta walaupun didekati oleh seorang supermodel sekalipun. Hanya menjalani hidup yang polos tanpa warna.

Suatu hari, dikampus aku bertemu dengan seorang mahasiswi baru yang benar2 mengingatkanku pada pacar pertamaku. Imut, kalem, dan sederhana. Ada sekilas perasaan suka dengan mahasiswi ini. Tapi hanya sebatas suka, tidak lebih. Entah kenapa, semakin lama dan semakin sering bersua dengannya rasa suka ini semakin besar. Ya, hanya dengan bersua saja, tidak pernah berkenalan ataupun ngobrol. Rasa suka ini pun terlihat begitu nyata dimata orang lain. Terlebih lagi aku memanggilnya dengan sebutan "Cinta" bukan dengan namanya. Ledekan usil dari teman2ku pun mulai bersaut-sautan. Ya Tuhan, bagaimana aku harus mengatasi perasaan ini??

Aku sadar, aku hanya orang biasa yang hidup pas-pasan, tanpa masa depan yang nyata, dan selalu dibuntuti perasaan bersalah jika aku mendekati mahasiswi ini tetapi nantinya tidak dapat memberinya sebuah kebahagian padanya. Begitulah aku, selalu berkecamuk dengan dilema yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.

Aku pun akhirnya tidak pernah mendekatinya. Orang bilang cinta itu harus diperjuangkan, tapi itu tidak bisa kulakukan. Aku hanya bisa memendam perasaan ini. Tanpa berharap Tuhan menciptakan keajaiban dengan memberi sebuah peristiwa yang bisa mengikat kami. Bagiku, dengan hanya melihat wajahnya sekilas itu sudah cukup. Jika dia tersenyum padaku itu adalah sebuah anugrah yang luar biasa.

Senyuman yang memberi kebahagiaan dalam hati yang tersiksa. Demi sebuah senyuman itu aku masih bertahan dalam hidup yang hampa. Selama masih melihat senyumnya, aku merasa hidupku masih ada kebahagiaan. Hidupku Demi Senyumanmu Cinta.

Dedicated to S*****

8 komentar:

Post a Comment